Selasa, 21 Mei 2013

Jurnal Kesehatan



HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN MENURUT PERSEPSI PASIEN DAN DOKTER

Retno Twisti Andayani*, M. Anshori *, Lilik Wijayati ***
*      Staf pengajar PSIK UNIGRES
***  Mahasiswa Program B5 PSIK UNIGRES


 


ABSTRACT

Decrease of service quality not caused only by employees quality, but also by the high of work load, so the nurse physic and mental will be decrease.
This research using by Cross Sectional Design approach, including 16 sampel by purposive sampling technique. Data collected using  observation. Data processed and analized using by SPSS 12 Version for Windows with Mann Whitney Test.
Result of research indicate there is a correlation between nurse work load and quality service according to the patient and doctor. Base on Spearman rank correlation was got the value of p = 0,001 (patient) and p = 0,003 (doctor) and value of r = 0,741 (patient) and r = 0,689 (doctor) so its means that H1 received.
To the quality service and customer satisfaction need the clearly regulation about the nurse need and composition, so not caused the high work load. 

Key Words : Nurse Work Load, Nurse Quality Service

PENDAHULUAN

Saat ini tuntutan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan (PPNI, 1999). Untuk itu tidak ada pilihan lain bagi perusahaan yang ingin bertahan dalam persaingan global selain harus bisa meningkatkan produk berkualitas yang bisa diterima pasien/konsumen (Purnama, 2006). Adanya beban kerja yang berlebihan akan menimbulkan stress kerja sehingga akan menurunkan kinerja perawat (Abraham, 1999). Keluhan pasien merupakan indikator terhadap adanya masalah pada kualitas tenaga perawat. Menurunnya kualitas pelayanan bukan hanya karena faktor mutu tenaga, tetapi dapat juga karena tingginya beban kerja berakibat perawat menjadi letih secara fisik dan mental (Ilyas, 2004). Sampai saat ini masih muncul keluhan dari sebagian besar pasien  dan dokter tentang mutu pelayanan perawat. Keluhan yang muncul dari sebagian besar  pasien yang dirawat di rawat inap Grha Husada antara lain tentang kurang optimalnya pelayanan personal hygiene pasien, kurangnya pemberian informasi tentang hasil pemeriksaan dan pelayanan , ketrampilan, ketelatenan tindakan dan respon perawat terhadap keluhan pasien juga masih kurang. Berdasarkan hasil survey dari komite mutu Rawat Inap Grha Husada bulan Januari,  menyangkut perawat tidak menyeka pasien sebesar 5,6%, perawat kurang terampil dan telaten sebesar 4,6%, perawat kurang memperhatikan keluhan pasien 2%,  respon time  terhadap pemanggilan lebih dari 5 menit sebesar 2,5% dan perawat tidak memberi informasi sebesar 5,4%.  Sedangkan keluhan dari sepuluh dokter spesialis yang diwawancarai peneliti mengenai mutu pelayanan keperawatan yaitu empat dokter mengatakan ketrampilan perawat perlu ditingkatkan, tiga dokter mengatakan komunikasi perawat perlu ditingkatkan  dan tiga dokter mengatakan jumlah perawat masih perlu ditingkatkan.   Namun sampai saat ini hubungan beban kerja  terhadap mutu pelayanan keperawatan dilihat dari persepsi pasien dan dokter di rawat inap Ghra Husada  masih belum dijelaskan.
 Di Instalasi Rawat Inap Grha Husada Rumah Sakit Petrokimia Gresik terdapat 3 ruang perawatan dengan jumlah tempat tidur 57 dan jumlah perawat sebanyak 24 orang. BOR rata-rata tahun 2010 untuk rawat inap Ghra Husada adalah 54,2 %. Dari tiga ruang perawatan yang ada di Rawat Inap Ghra Husada memiliki tingkat hunian pasien (BOR)  yang berbeda.  Jumlah hunian pasien di rawat inap Grha Husada lantai 3 adalah 25 pasien, lantai 2 adalah 20 pasien dan lantai 1 adalah 12 pasien. Jumlah perawat tiap shif adalah 2 orang. Berdasarkan hasil survey pendahuluan tentang beban kerja perawat yang dilakukan peneliti pada tanggal 1 Desember 2010 terhadap 24 orang perawat di Rawat Inap Grha Husada Lantai  1, 2 dan 3, didapatkan hasil sebanyak 90 % perawat menyatakan bahwa beban kerjanya berat, 10 % perawat menyatakan beban kerjanya sedang. Adanya keluhan dari pasien dan dokter tentang mutu pelayanan keperawatan ini akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup rumah sakit sebagai penjual layanan jasa.
 Rumah Sakit Petrokimia Gresik sebagai rumah sakit swasta yang merupakan anak perusahaan dari PT Petrokimia Gresik, yang sebelumnya adalah klinik pabrik. Pada tahun 1980 berubah menjadi balai kesehatan dan dalam rangka peningkatan pelayanan, berubah menjadi RSPG pada tahun 1992, terakreditasi penuh lima layanan pada tahun 2000 dan mulai mandiri berstatus PT. Petro Graha Medika pada tahun 2004. Seiring dengan perkembangan perusahaan maka RS Petrokimia Gresik  membuka cabang di beberapa tempat, salah satunya adalah rawat inap Ghra Husada yang terletak di Jl. Padi no 3 perumahan Dinas Karyawan PT. Petrokimia Gresik. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan layanan dan menambah jumlah hunian pasien yang berobat ke RSPG. Rawat inap Ghra Husada efektif beroperasi pada bulan oktober 2008, awalnya dibuka dengan dua lantai saja, namun sejak pertengahan mei 2010 dituntut oleh permintaan konsumen yang terus meningkat maka rawat inap Grha Husada  menambah hunian pasien sebanyak 25 tempat tidur di lantai 3.   Dengan  meningkatnya jumlah hunian pasien tidak diimbangi dengan kelengkapan fasilitas, pemetaan pasien dan jumlah tenaga. Semua pemeriksaan penunjang dan operasi masih dilakukan di rumah sakit yang lama. Untuk pengambilan darah dan pengantar tindakan ke RS yang lamapun masih dilakukan sendiri oleh perawat Grha Husada, belum lagi tugas mendampingi  visite beberapa  dokter karena  masih belum adanya pemetaan pasien menurut kasusnya. Padahal perawat jaga setiap shift hanya 2 orang per lantai namun kita dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanan agar bisa bersaing dengan rumah sakit yang lain, terlebih lagi dengan semakin banyaknya jumlah rekanan, secara langsung akan mempengaruhi tuntutan mutu pelayanan. Selain itu kualitas atau mutu layanan harus menjadi prioritas utama dalam manajemen rumah sakit. Mutu harus dimulai dari konsumen dan berakhir pada konsumen. Artinya spesifikasi kualitas layanan harus diawali dengan identifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen (patient oriented) yang dituangkan ke dalam harapan konsumen dan penilaian akhir diberikan oleh konsumen melalui informasi umpan balik yang diterima perusahaan. Karena itu upaya peningkatan kualitas pelayanan harus dilakukan dengan komunikasi yang efektif dengan konsumen (Purnama, 2006). Dan di imbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang kelangsungan proses pelayanan terhadap pasien. Sebagai institusi pemberi pelayanan jasa adanya keluhan dari pasien dan dokter akibat keterbatasan tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, sehingga bila ada keluhan terhadap pelayanan tetap menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan walaupun angka keluahannya kecil. Untuk itu di RS Petrokimia Gresik tidak ada batas toleransi untuk keluhan pasien.
Berdasarkan keadaan di atas maka dibutuhkan suatu penelitian untuk menganalisis hubungan  beban kerja perawat dengan mutu pelayanan  keperawatan menurut persepsi pasien dan dokter di Rawat inap Grha Husada  RS Petrokimia Gresik. Dari analisis ini diharapkan dapat menggambarkan beban kerja perawat dan mutu pelayanan keperawatan, sehingga dapat diambil langkah strategis untuk mengatur kembali komposisi perawat secara rasional dan upaya untuk meningkatkan motivasi kerja perawat agar tercapai suatu pelayanan keperawatan yang bermutu untuk mendukung pencapaian visi dan misi rumah sakit.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan dan mengolah data agar dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan penelitian. Yang termasuk rancangan penelitian adalah : jenis penelitian, populasi, sampel, sampling, instrumen penelitian, cara pengumpulan data, cara pengolahan data, perlu tidak mengunakan statistik, serta cara mengambil kesimpulan. Dalam penelitian observasional ini menggunakan desain penelitian dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian Cross Sectional adalah jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali, pada satu saat. Pada jenis ini variabel independen dan dependen dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada follow up (Nursalam, 2003).
Pengukuran :
Variabel Independen   : Diskripsi V1                         Uji korelasi : interprestasi
Variabel dependen       : Diskripsi V D                        makna/arti
Keterangan:
Variabel Independen = beban kerja meliputi kegiatan langsung, kegiatan tak langsung, kegiatan administrasi, kegiatan pribadi, sela waktu
Variabel Independen = mutu  pelayanan keperawatan menurut persepsi pasien dan dokter.              
Populasi dalam penelitian adalah setiap subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah semua perawat di rawat inap Grha Husada sebanyak 24 orang, dokter yang merawat pasien di rawat inap Grha Husada sebanyak 20 orang, dan pasien yang dirawat di rawat inap Grha Husada rata-rata tiga bulan terakhir sebanyak 35 orang.
Sampel adalah bagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi (Arikunto, 1998). Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah perawat, dokter spesialis, dan pasien di rawat inap Grha Husada pada bulan Maret 2011.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tempat pengambilan data untuk penelitian ini adalah Instalasi Rawat Inap Grha Husada Rumah Sakit Petrokimia Gresik. Rawat inap Grha Husada merupakan cabang dari Rumah Sakit Petrokimia Gresik yang terletak di Jln. Padi No. 3 Perumahan Dinas Karyawan PT. Petrokimia Gresik. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan layanan dan menambah hunian pasien yang berobat ke RSPG. Rawat inap Grha Husada efektif beroperasi pada tanggal 18 Oktober 2008 dengan 32 tempat tidur yang terletak di Lantai 1 dan lantai 2, namun sejak pertengahan Mei 2010, di tuntut permintaan konsumen yang terus meningkat maka rawat inap Grha Husada menambah hunian pasien sebanyak 25 tempat tidur di lantai 3. Jadi saat ini jumlah tempat tidur  di rawat inap Grha Husada sebanyak 57 TT yang terdiri dari 12 TT di lantai 1, 20 TT di lantai 2 dan 25 lantai di lantai 3.  Adapun BOR pada tahun 2010 sebesar 54% (Data Rekam Medis Rumah Sakit Petrokimia Gresik). Sedangkan ketenagaan terdiri  dari 24 perawat dan 4 dokter jaga.

1.      Perawat
A.     Distribusi responden berdasarkan usia adalah sebagai  berikut :
Gambar 5.1     Distribusi Responden Perawat Berdasarkan Usia Pada Perawat di Rawat Inap Grha Husada Bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden berusia 25 – 40 tahun, yaitu sebanyak 11 responden (69%) dan hampir setengahnya berusia 18 – 25 tahun (31%).
B.     Distribusi responden berdasarkan pendidikan
Gambar 5.2   Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Pada Perawat di Rawat inap Grha Husada Bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan hampir seluruhnya berpendidikan D III yaitu sebanyak 15 responden (94%) sebagian kecil berpendidikan S – 1 yaitu sebanyak 1 responden (6%) 

C.     Distribusi responden berdasarkan status pernikahan
Gambar 5.3      Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan Pada Perawat di  rawat inap Grha Husada bulan Juni

Dari diagram pie di atas didapatkan bahwa status responden yang sudah menikah dan yang belum menikah sama banyak yaitu 50%.
D.     Distribusi responden berdasarkan lama bekerja
Gambar 5.4   Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja Pada Perawat di Rawat Inap Grha Husada pada Bulan Juni  2011

Dari diagram pie di atas didapatkan bahwa hampir setengahnya responden telah bekerja selama 2 - 3 tahun yaitu 7 responden (41%) dan sebagian kecil telah bekerja selama >3 tahun, yaitu sebanyak 3 responden (19%).
E.         Distribusi responden berdasarkan beban kerja pada setiap shift
a.   Shif Pagi
Gambar 5.5      Distribusi Rerata Beban  Kerja Untuk Shift Pagi Perawat di  Rawat Inap Grha Husada pada Bulan Juni 2011
Dari diagram pie tersebut  diketahui sebagian besar responden pada shift pagi sebagian besar mempunyai beban kerja yang tinggi, yaitu 12 responden (75%), dan sebagian kecil responden mempunyai beban kerja sedang sebanyak 4 responden (25%)
b.   Shif Sore
Gambar 5.6     Distribusi Rerata Beban  Kerja Untuk Shift Sore Perawat di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Jani 2011
Dari diagram pie tersebut diketahui bahwa pada shift sore sebagian besar mempunyai beban kerja yang tinggi 10 responden  mempunyai beban kerja yang tinggi dan  6 responden yang mempunyai beban kerja sedang  yaitu 38%.
c.    Shif Malam
Gambar 5.7     Distribusi Beban  Kerja Perawat Untuk Shift malam di Rawat Inap Grha Husada pada Bulan Juni 2011

Dari diagram pie tersebut diketahui pada shif malam bahwa setengahnya mempunyai beban kerja tinggi sebanyak 8 responden (50%) dan setengahnya lainnya mempunyai beban kerja sedang sebanyak 8 responden (50%).
d.      Proporsi waktu kerja

Gambar 5.8     Rerata Proporsi Waktu Kerja Perawat di Rawat Inap Grha     Husada pada bulan Juni 2011
Dari diagram pie tersebut diketahui rerata proporsi waktu kerja dalam satu shift yang digunakan untuk kegiatan langsung adalah 61%, untuk kegiatan administrasi 9%, untuk kegiatan tak langsung 14%, untuk kegiatan pribadi  9%, dan untuk sela waktu  7%. Artinya sebagian besar waktu yang digunakan perawat untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan dan keselamatan pasien dan  hanya ada waktu sekitar 7% dari total waktu kerja dalam satu shift yang digunakan perawat untuk kegiatan diluar kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan.
2.      Pasien
A.     Distribusi responden berdasarkan usia
Gambar 5.9   Distribusi Responden Berdasarkan Usia pada Pasien  di rawat inap Grha Husada  pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan bahwa hampir setengahnya pasien berusia >40 tahun sebanyak  7 responden (44%), dan sebagian kecil berusia 18-24 tahun sebanyak 3 pasien (19%).
B.     Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
Gambar 5.10    Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada Pasien Rawat Inap Grha Husada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan sebagian besar yaitu 12 pasien adalah laki-laki (75%) dan sebagian kecil adalah perempuan sebanyak 4 pasien (25%). 
C.     Distribusi responden berdasarkan pendidikan
Gambar 5.11   Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan pada Pasien  di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan sebagian besar berpendidikan SLTA sebanyak 8 responden (50%), dan sebagian kecil berpendidikan SLTP dan SD, sebanyak 1 responden (6%). 
D.     Distribusi responden berdasarkan lama dirawat
Gambar 5.12    Distribusi Responden Berdasarkan Lama dirawat pada Pasien Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan sebagian besar dirawat 3-5 hari sebanyak 10 pasien (62%) dan sebagian kecil dirawat selama 6-8 hari sebanyak 3 pasien (19%).

3. Dokter.
A.     Distribusi responden usia dokter
Gambar 5.13   Distribusi Responden Berdasarkan usia dokter di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan sebagian besar usia dokter adalah 40-50 tahun sebanyak 10 dokter (62%) dan sebagian kecil berusia >50 tahun sebanyak 2 dokter (13%).
B.     Distribusi responden jenis kelamin dokter
Gambar 5.14    Distribusi Responden Berdasarkan jenis kelamin dokter di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011
Dari diagram pie di atas didapatkan sebagian besar jenis kelamin dokter adalah Laki – laki sebanyak 11 dokter (69%) dan sebagian kecil berjenis kelamin perempuan sebanyak 5 dokter (31%).
C.     Distribusi responden berdasarkan status pernikahan dokter
Gambar 5.15    Distribusi Responden Berdasarkan status pernikahan dokter di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan seluruhnya status pernikahan dokter adalah menikah sebanyak 16 dokter (100%) dan tak satupun dokter yang belum menikah atau Janda/Duda.
D.     Distribusi responden berdasarkan lama bekerja
Gambar 5.16    Distribusi Responden Berdasarkan lama bekerja di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari diagram pie di atas didapatkan lama bekerja hampir setengahnya adalah 5-10 tahun sebanyak 7 dokter (44%) dan sebagian kecil lama bekerja 1-5 tahun sebanyak 3 dokter (19%).
5.1.2        Data Khusus
1.      Beban kerja perawat
Gambar 5.17    Distribusi Rerata Beban  Kerja Perawat di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011
Dari diagram pie tersebut diketahui sebagian besar mempunyai beban kerja tinggi yaitu 11 responden (69%) dan hampir setengahnya mempunyai beban kerja sedang sebanyak 5 responden (31%).
2.      Mutu Pelayanan keperawatan
A.     Mutu pelayanan keperawatan menurut persepsi pasien.
 Gambar 5.18    Mutu Pelayanan Keperawatan  Menurut Persepsi pasien  di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011
Dari diagram pie di atas diketahui bahwa setengahnya pasien berpendapat bahwa pelayanan kurang sebanyak 8 responden (50%) dan sebagian kecil yang berpendapat bahwa pelayanan baik sebanyak 2 pasien (13%).
B.     Mutu pelayanan keperawatan menurut persepsi dokter
Gambar 5.19   Mutu Pelayanan Keperawatan Menurut Persepsi Dokter di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011
Dari diagram pie di atas diketahui bahwa hampir setengahnya dokter berpendapat bahwa pelayanan perawat cukup dan hampir setengahnya lagi kurang, yaitu sebanyak 7 responden (44%) dan sebagian kecil berpendapat baik, sebanyak 2 responden (12%).
3.      Hubungan Beban Kerja dengan Mutu Pelayanan Menurut Pasien
                                                      
Crosstabulation
Mutu = Persepsi Pasien
Total

Kurang
Cukup
Baik
Bebankerja
Tinggi
8
3
0
11

Sedang
0
3
2
5
Total
8
6
2
16
Spearman Correlation
r : 0,741
p = 0,001

Tabel 5.1       Mutu Pelayanan Keperawatan  Menurut Persepsi pasien  di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari tabel 5.1 menggambarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji statistik Spearman Rank Correlation didapatkan nilai signifikansi p = 0,001 dimana lebih kecil dari 0,05, yang berarti H1 diterima, sehingga ada hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut pasien di RS Grha Husada Gresik. Sedangkan r correlation : 0,741 yang berarti tingkat hubungan adalah Kuat.
4.      Hubungan Beban Kerja dengan Mutu Pelayanan Menurut Dokter
             
Crosstabulation
Mutu = persepsi dokter
Total
Kurang
Cukup
Baik
Beban kerja
Tinggi
7
4
0
11

Sedang
0
3
2
5
Total
7
7
2
16
Spearman Correlation
r : 0,689
p = 0,003


Tabel  5.2      Mutu Pelayanan Keperawatan  Menurut Persepsi Dokter  di Rawat Inap Grha Husada pada bulan Juni 2011

Dari tabel 5.2 menggambarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji statistik Spearman Rank Correlation didapatkan nilai signifikansi p = 0,003 dimana lebih kecil dari 0,05, yang berarti H1 diterima, sehingga ada hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut dokter di RS Grha Husada Gresik. Sedangkan r correlation : 0,689 yang berarti tingkat hubungan adalah Kuat.

5.2.1        Hubungan Beban Kerja dengan Mutu Pelayanan Menurut Persepsi Pasien
Dari tabel 5.1 menggambarkan hasil analisis statistik yang menggambarkan adanya hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut persepsi pasien di RS Grha Husada Gresik
Menurut Groenewegen dan Hutten, 1991 beban kerja adalah keseluruhan waktu yang dipakai atau jumlah aktifitas yang dilakukan. Gillies menyebutkan ada enam komponen yang mempengaruhi beban kerja perawat, yaitu jumlah pasien yang masuk ke unit setiap hari, kondisi pasien dalam unit tersebut, rata-rata pasien yang menginap, tindakan perawatan langsung dan tidak langsung yang dibutuhkan oleh masing-masing pasien, frekuensi masing-masing tindakan keperawatan yang harus dilakukan, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan tindakan perawatan langsung dan tidak langsung. Menurut Imbalo (2007) menyatakan bahwa pasien/masyarakat melihat layanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan dan santun, tepat waktu, tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. Menurut Junadi, 1994 dalam Aprilistini, umur berpengaruh dalam menentukan solusi bagi stressor. Pada usia diatas paruh baya (sekitar umur 44), tanpa memandang jenis kelamin, status perkawinan atau tingkat ekonomi, mempunyai tingkat depresi. Hal ini dapat disebabkan karena pada umur 40-lah kinerja otak kita mulai menurun. Ini berkaitan dengan selubung myelin, salah satu bagian yang  penting dalam sel syaraf otak. Diatas 40 tahun, kita mulai kehilangan kemampuan untuk terus menerus memperbaiki selubung itu, sehingga menyebabkan berbagai gejala kognitif yang berkaitan dengan penuaan.
Jika dilihat dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 64,4% perawat  mempunyai beban kerja yang tinggi, yaitu rata-rata waktu yang digunakan untuk kegiatan produktif mencapai 80% atau lebih dari total waktu kerja dalam satu shift. Dari rerata waktu produktif  yang digunakan perawat selama jam kerja yang digunakan untuk kegiatan langsung 61%, untuk kegiatan administrasi 9%, dan untuk kegiatan tidak langsung sebesar 14%. Sedangkan rerata waktu yang digunakan untuk kegiatan non produktif adalah untuk kegiatan pribadi 9% dan untuk sela waktu 7%. Artinya bahwa banyaknya kegiatan perawat yang berhubungan dengan pasien, baik langsung maupun tidak langsung, hal ini menunjukkan beban pekerjaan perawat masih tinggi karena harus melakukan pekerjaan keperawatan dan mempertahankan keselamatan pasien di sebagian besar waktu kerjanya dalam satu shift.  Hal ini  akan mengakibatkan beban kerja perawat menjadi tinggi dan juga mutu pelayanan menurut pasien masih dirasakan kurang. Dari hal itu bisa dilihat bahwa pasien lebih memfokuskan mutu pada keluaran atau hasil yang dirasakan tanpa melihat proses yang terjadi terhadap pelayanan yang diberikan. Berdasarkan gambar 5.20 dapat dilihat bahwa hampir setengahnya pasien berusia >40 tahun. Diatas 40 tahun, kinerja otak mulai menurun yang menyebabkan berbagai gejala kognitif yang berkaitan dengan penuaan. Pada usia dewasa ini pasien lebih menuntut pada pelayanan yang terbaik.

5.2.2        Hubungan Beban Kerja dengan Mutu Pelayanan Menurut Persepsi Dokter

Dari tabel 5.2 menggambarkan hasil analisis statistik yang menggambarkan adanya hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut Persepsi Dokter di RS Grha Husada Gresik
Mutu adalah keluaran dari kinerja yag dilakukan oleh pegawai, atau mutu adalah bagian dari produktivitas seorang pegawai. Berkaitan dengan tugas pelayanan perawatan, Lichtenstein (1984) menjelaskan bahwa yang berhubungan dengan kepuasan kerja dokter, ada tiga faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi, yaitu : 1) tenaga perawat yang cakap dan terampil, 2) Perawat harus mampu meyelesaikan tugas-tugas yang didelegasikan dokter dengan baik, 3) Perawat harus mampu menyelesaikan tugas rutin klinis seperti mengukur tekanan darah, mengukur suhu dan lain-lain.
Dari beberapa definisi kualitas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mutu atau kualitas pelayanan keperawatan adalah tingkat kemampuan perawat dalam memberikan layanan keperawatan sesuai dengan filosofi dan standar keperawatan yang berlaku dan dapat diterima oleh pasien. Kegiatan yang dilakukan perawat selama jam kerja dibagi menjadi lima kategori, yaitu kegiatan langsung yang meliputi kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan pasien seperti melakukan observasi, memberikan obat, memasang infus, dan lain sebagainya. Kegiatan administrasi yaitu membuat permintaan obat untuk 24 jam,   membuat sensus harian dan daftar makan pasien, melakukan rincian biaya perawatan, dan menyiapkan pasien pulang. Kegiatan lain-lain, yaitu kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan pasien tapi menunjang untuk kegiatan perawatan secara umum, seperti melipat kassa, mencuci alat, merapikan ruangan, dan lain sebagainya. Kegiatan pribadi, yaitu kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan antara lain sholat, makan, berobat. Selang waktu yaitu saat perawat tidak melakukan  kegiatan apapun, seperti berbincang-bincang dengan teman, menonton televisi, membaca koran, dan lain-lain. Dari tiga shift kerja yang ada sebagian besar perawat yaitu 75% mempunyai beban kerja yang  tinggi. Hal ini karena pada shift pagi hampir semua dokter melakukan visite, dan banyak tindakan langsung yang dilakukan kepada pasien. Sedangkan untuk shift malam, kegiatan administrasi hanya membutuhkan waktu 9% karena jarang sekali pasien yang pulang, sehingga kegiatan administrasi yang dilakukan hanya memasukkan data pada rincian manual. Bila dikaitkan dengan jumlah pasien, dapat dilihat bahwa beban kerja yang tinggi ini karena rerata BOR pasien saat dilakukan penelitian adalah 68.5%. Sedangkan bila dilihat dari shift kerja rerata beban kerja yang tinggi terjadi pada shift pagi, terutama untuk ruangan dengan BOR diatas 65%. Dengan melihat rata-rata  yang hanya 54%, tentu beban kerja perawat akan semakin rendah, namun ini menjadi kelemahan peneliti karena tidak bisa melakukan pengukuran beban kerja ketika BOR ruang perawatan sesuai dengan rata-rata, karena keterbatasan waktu penelitian. Harapan dokter sebagai profesi kesehatan yang juga memberikan pelayanan kesehatan terhadap peningkatan mutu pelayanan berdasarkan proses dan out putnya, karena perawat merupakan mitra kerja bagi dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Hal ini sesuai dengan jawaban terbuka tentang harapan dokter tentang pelayanan keparawatan yang berkualitas yang menekankan pada aspek kesesuaian tindakan dengan protap yang berlaku. Hasil penelitian tentang mutu pelayanan keperawatan menunjukkan prosentase hasil sedikit berbeda antara persepsi pasien  dan persepsi dokter dengan nilai hampir setengahnya cukup dalam mutu pelayanan.  Dari sini dapat dilihat bahwa beban kerja akan mempengaruhi kondisi kerja yang bisa menimbulkan stress kerja bila terdapat pula faktor lain yang menimbulkan kondisi kerja yang tidak kondusif sehingga menimbulkan ketidakpuasan kerja pada pegawai.
SIMPULAN DAN SARAN 
6.1              Simpulan
1.      Ada hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut pasien, yang dipengaruhi oleh faktor kelengkapan sarana kerja, pengalaman kerja dan jumlah tenaga.
2.      Ada hubungan beban kerja dengan mutu pelayanan menurut dokter, yang dipengaruhi oleh jumlah tenaga perawat, jumlah pasien dan model asuhan keperawatan yang diberikan.
6.2              Saran
1.      Dengan semakin banyaknya rekanan dan saingan dalam bisnis Perumahsakitan, Grha Husada harus semakin menunjukan keberadaanya dengan melengkapi sarana penunjang dan kebutuhan pelayanan lainya, termasuk dalah hal kelengkapan sarana dan prasarana penunjang laboratorium dasar dan radiologi. Hal ini selain menciptakan sistem  kerja yang efektif dan efisien akan juga tidak menambah beban kerja, serta menutupi kekurangan dari Grha Husada karena letaknya yang kurang strategis yaitu di dalam perumahan dinas. Untuk itu Grha Husada harus mempunyai differential service yang akan banyak didambakan oleh pasien.
2.      Perlunya pemetaan raungan yang jelas pada setiap lantai di Grha Husada berdasarkan kasus, misalnya kasus bedah, anak, dalam, dan kandungan. Selain itu juga perlu pengaturan yang jelas tentang komposisi dan kebutuhan perawat di setiap lantai rawat inap Grha Husada sehingga dengan keterbatasan fasilitas yang ada saat ini tidak menyebabkan tingginya beban kerja perawat, dan tidak menyebabkan stress kerja yang akhirnya mempengaruhi kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien
3.      Bagi pemberi pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan di Rawat Inap Grha Husada untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, dengan mengintensifkan program in house training perawatan, melakukan supervisi keperawatan tingkat kepuasan pasien akan meningkat dan terjalin hubungan kerja yang harmonis antara karyawan dan manajemen  dalam pemberian layanan kesehatan kepada pasien.
4.      Perlu diadakan penelitian yang lebih spesifik tentang berbagai faktor yang mempengaruhi mutu pelayanan keperawatan di Instalasi Rawat Inap Grha Husada, agar diperoleh gambaran yang jelas tentang berbagai upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
KEPUSTAKAAN
As’ad, Moch.( 1995). Psikologi Industri. Jakarta: Liberty.
Arikunto, Suharismi. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Azrul. (1996). Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi ketiga. Jakarta: Binarupa Aksara
Gillies D.A. (1996). Nursing Management: A System Approach. W.B.Saunders  Company, Philadelphia.
Gie, The Liang. (1981). Administrasi Perkantoran Modern. Yogyakarta:Liberty.
Hafizurrachaman (2009). Manajemen Pendidikan dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto.
Handoko, Hani. (1990). Manajemen Sumber Daya manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Handoko, Hani. (2001). Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Edisi kedua. Yogyakarta: BPFE.
Hasibuan, Malayu. SP. (1996). Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktifitas. Bandung: Bina Aksara.
Hidayat, Aziz Alimul. (2007). Metode Penelitian Keperwatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Ilyas,Yaslis. (2002). Kinerja. Teori, Penilaian dan Penelitian. Jakarta.
Ivancevich, John M. dkk.. (2005). Perilaku dan Manajemen Organisasi., alih bahasa Gina Gania. Jakarta: Erlangga.
Mangkunegara, A.A.A.P. (2000). Evaluasi Kinerja SDM. Jakarta: Refika Aditama.
Mathis Robert L, Jackson John H. (2001). Human Resource Management (Manajemen SDM ). Jakarta : Salemba Medika.
Muchlas (1998). Motivasi dan Peningkatan Produktivitas Pegawai. Cetakan kedua. Jakarta : Refika Aditama.
Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi kedua. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam (2001). Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperwatan. Jakarta : Salemba Medika.
Sabarguna, Boy S. (2009). Kompetensi Manajemen Rumah Sakit.  Jakarta: Sagung Seto.
Sinungan, Muchdarsyah. (1997). Produktifitas, Apa dan Bagaimana. Jakarta: Bumi Aksara.
Siagian, Sondang P. (1985). Organisasi Kepemimpinan Perilaku Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.
Siagian, Sondang P. (1996). Teori Motivasi dan Aplikasi. Cetakan Kedua. Jakarta :Rineka Cipta.
Terry, GR (1993). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Liberty.
Umar, Husein  (1998). Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta.:Gramedia Pustaka Utama.
Winardi (2000). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta : Rineka Cipta.
Winardi (2007). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta : Rajawali Press.
Wiratmo, Masykur. (2001). Pengantar Kewiraswastaan Kerangka Dasar Memasuki Dunia Bisnis. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Wursanto (1987). Manajemen Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar